Dan kau adalah laksana hujan yang tak kunjung aku sentuh dari balik jendela

Mana ada logika menerima ?

Akan kehadiran euforia sesaat

Pada kenangan yang kunjung memutar

Berhentilah !

Mana ada spesies langka sepertiku ?

Yang menebar tawa dibalik luka

Yang menebar bahagia dibalik lara

Atas nama jarak

Aku senang melihatmu  mengenang

Pada logika aku bertanya

Pada nestapa aku berlara

Padamu yang masih dilarang hasrat

Di penghujung petang aku berharap

Adalah kepada yakin

Aku sedang berkeingin

Adalah kepada nalar

Yang kian detik kian menjalar

Pada waktu ini aku hanya ingin penawar

Menghilang rasa ingatan

Pada batas tepi yang pernah dijalan

Karna hanya berketakutan

Apa yang menjadi milik orang

Kian kembali dalam sebuah pelukan

Pada sebuah pengakhiran

Kembali atas nama penasaran

Yang dulunya sempat bermuara

Atas nama rasa yang kian karuan

Mencoba rajut kelakar angan

Yang dulunya tepi harapan

Dalam sebuah pelukan

Bolehlah kamu bersinggah

Atau sekedar bertegur sapa

Bahkan jika ingin memikat

Bolehlah hati ini bersiap

Menyiapkan segala ruang

Yang pada waktu apa

Kau boleh mengenang

Sesenang senangnya

Suka katakana suka

Luka katakana luka

 

Penulis : Mustika Rahma

Editor   : Annisa Nasri Rahmatunisa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.