Bandung,GS – Suasana di pelataran jalan Sultan Tirtayasa dipenuhi oleh kendaraan bermotor. Suhu 23° tidak melunturkan antusiasme massa untuk menghabiskan waktu digelaran Bandung Menggugat. Dilaksanakan di kaka café, acara ini dimulai sejak pukul 18.30 WIB (06/10/2019).

 

Acara yang diinisiasi oleh Kaukus Penyelamat Demokrasi Bandung. Terdiri dari beberapa aliansi seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Lembaga Bantuan Hukum Bandung (LBHBDG), Wahana Lingkungan Hidup Jawa Barat (Walhi jabar), Perkumpulan Inisiatif KPRI, KPA Jabar, Agra Jabar, PSDK, FK31, Rumah Cemara ini bertujuan untuk mengecam keras kegagalan negara dalam merawat demokrasi.

 

Dibuka oleh lantunan beberapa tembang dari grup musik Selepas Hujan. Band beraliran indie folk ini membuka suasana kaka café malam itu menjadi lebih bergema. Sayatan lirik-lirik tajam syarat kritik menjadi senjata bagi band asal majalaya ini.

 

Mimbar bebas menggema setelah beberapa lantunan irama dari Selepas Hujan. Estafet orasi jadi hal yang menarik malam itu. Bertemankan setengah bulan di langit, suara-suara dari masing-masing aliansi saling bersautan. Muit Pelu dari Lembaga Bantuan Hukum Bandung jadi orang pertama yang membakar semangat pada sesi mimbar bebas. Dia memaparkan bagaimana semangat anti korupsi dan juga menyinggung masalah utama yaitu kebebasan berekspresi yang kian hari kian suram.

 

“Kebebasan berekspresi kita akan seperti apa nanti? Bagaimana cara kita mengkritisi Presiden? Bagaimana dengan fungsi kontrol kita? Kita harus menggugat! Situasi demokrasi kita tidak sehat!” sorak pria yang akrab disapa wily ini ditengah orasinya.

 

Dia juga menyerukan bahwa korupsi tidak hanya sekedar nominal semata, namun ada hak rakyat yang terampas oleh praktik korupsi. “Nilai utama semangat reformasi ialah SEMANGAT PEMBERANTASAN KORUPSI yang saat ini surut. Bukan soal nominal, tapi masalah hak rakyat yang diambil…itu semua karena praktik KORUPSI!” ujarnya.

 

Bandung menggugat ini tidak hanya membahas Revisi Undang Undang Pemberantasan Korupsi dan RUU KUHP, namun menyinggung UU yang dianggap tidak pro terhadap rakyat. Dedi Kurniawan selaku Dewan Daerah Wahana Lingkungan Jawa Barat (Walhi Jabar) menegaskan bahwa tidak hanya RUU KPK dan RUU KUHP, RUU Minerba pun bisa menjadi ancaman terhadap rakyat. “UU Minerba banyak rencana kerja di bidang geotermal. Otomatis proses perlaihan kawasan akan sangat mudah. Yang awalnya kawasan lindung bisa menjadi kawasan pertambambangan”, Tegas Dedi.

 

Walhi Jabar pun sangat mendukung dengan aksi mahasiswa yang massive dilakukan akhir pekan ini. Walhi berharap agar ritme perjuangan ini bisa terjaga dan jangan sampai Undang-undang bermasalah sampai disahkan.

 

Panggung mimbar tidak hanya milik pria saja, suara ini berhak untuk siapa saja termasuk wanita. Orasi-orasi kaum hawa dari SEBUMI Bandung (serikat buruh-red) ini turut menyuarakan Hak-hak dan UU ketenagakerjaan yang dinilai sangat menindas kaum buruh. Banyak sekali pasal yang memberatkan kaum buruh apalagi wanita. Contohnya saja Hak atas cuti haid ataupun kehamilan sama sekali tidak pernah mereka dapatkan, padahal sangat jelas itu diatur oleh undang-undang. Selain hak atas cuti haid maupun hamil, Srikandi dari SEBUMI juga menyinggung perihal serikat pekerja. “Kami sebagai buruh dibatasi haknya untuk berserikat. Ini masalah. Hak-hak kami dikebiri. Melihat teman-teman yang turun langsung ke lapangan untuk melawan digebuki, hati kami sakit. Kita berjuang bersama, kawan-kawan!” tutupnya.

 

Haru biru tercermin disetiap pandangan massa yang berada di kaka café. Bagaimana tidak, selain orasi yang menyayat hati, nyanyian darah juang pun terlantun malam itu. Lirik syarat perjuangan dan pengorbanan jadi saksi semangat yang membara dalam Bandung Menggugat. Setelah lagu darah juang dikumandangkan, Dadan Ramdan dari Perkumpulan Inisiatif memberikan orasi. “Kita sama sebagai bangsa Indonesia. Malam ini Bandung Menggugat karena darurat demokrasi dan reformasi dikorupsi”, Ucapnya.

 

Mimbar Orasi terus bergulir. Suara demi suara menggelegar dari berbagai kalangan. Beberapa penggiat seperti Adit dari Rumah Cemara, Ressi dan Buri dari Geostrategy Study Club, dan Nursyawal dari Aliansi Jurnalis Independen Bandung pun jadi orator.

 

Doa bersama pun disematkan untuk para pejuang demokrasi yang gugur. Mereka berhak mendapatkan tempat setinggi-tingginya karena rela mempetaruhkan nyawa demi tegaknya demokrasi negeri.

 

Acara ditutup dengan beberapa bait puisi. Rima-rima perjuangan, pengabdian, dan pengorbanan jadi kunci dalam bait-bait syarat reformasi. Deru lirih bersemayam ditiap-tiap penonton yang hadir. Kita tersadar apa yang harus kita perjuangkan selama ini. Gagalnya reformasi jadi landasan api perjuangan harus tetap membara. Reformasi Dikorupsi! (RH)

One thought on “Kaukus Penyelamat Demokrasi Gelar Aksi Lewat Bandung Menggugat”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.