Bandung-GS, Pandemik yang terus bergulir membuat banyak problematika dikalangan masyarakat khususnya mahasiswa Politeknik Piksi Ganesha Bandung. Sudah banyak kebijakan pemerintah tentang penanggulangan wabah ini. diantaranya dengan menerbitkan peraturan SE HK.02.01/MENKES/202/2020 tentang protocol isolasi diri sendiri dalam penanganan corona virus disease. Selain KEMENKES, POLRI juga mengeluarkan maklumat Kapolri Nomor: Mak/2/III/2020 tentang antisipasi penyebaran virus corona/Covid 19.

Dinamika ini bergulir dikalangan mahasiswa Politeknik Piksi Ganesha Bandung. Tidak hanya yang berdomisili di Bandung. Pun menjerat mahasiswa yang domilisi di luar Bandung. Wacana lockdown parsial atau karantina wilayah menjadi momok bagi para mahasiswa daerah. keinginan untuk pulang kampung halaman dan bertemu sanak keluarga di rumah hanya menjadi angan-angan.

Seperti yang dialami oleh Hengki Febrianto. Mahasiswa semester 6 jurusan Manajemen Bisnis ini menyurutkan niatnya untuk pulang ke kampung halamannya. Ia menuturkan bahwa tidak mengetahui sebelumnya tentang kebijakan karantina wilayah. Karena di Purwokerto (daerah tempatnya tinggal-red) belum ada suspect corona. Namun beberapa hari kemudian muncul kabar bahwa Tegal dan daerah sekitarnya mengeluarkan kebijakan karantina wilayah.

Selain kebijakan pemerintah tentang karantina wilayah, Hengki juga mengikuti pesan keluarganya agar tetap tinggal di Bandung dan tidak pulang dulu.

“kaka saya bilang jangan pulang dulu, takut nanti saya terpapar dan menyebarkan virus disana (pekalongan)”, rintihnya ketika menuturkan curahan hati disela hujan turun kepada tim gemasuara.

Ini menjadikan sesuatu yang bisa menggetarkan hati siapaun. Bagaimana tidak, harapan berkumpul dengan keluarga menjadi harapan yang sirna kala wabah ini menyebar di sekitar kita. Hengki harus rela berdiam diri di kamar kontrakannya di bilangan Jalan Gumuruh selagi wabah ini bergulir. Tidak ada apa-apa di kamar kostnya, hanya berbekal telepon pintar yang menemaninya tiap hari. Kejenuhan selalu menghampiri dirinya, karena dia hanya menjalani kuliah daring, kebijakan yang dikeluarkan kampus selama wabah ini berlangsung. Dia pun tidak bisa kemana-mana.

“Saya keluar hanya untuk beli makan, itu pun hanya sekali pada siang hari. Setelah beli makan balik lagi ke kost dan saya hanya ketemu dispenser tiap hari”, ujarnya sesekali bercanda menutupi kesedihan akan rinduannya terhadap keluarga di rumah.

Tidak hanya itu, ada ketakutan tersendiri yang dialami oleh Hengki. Kebijakan karantina wilayah yang bisa melumpuhkan ekonomi juga terasa olehnya. Tidak hanya sektor informal yang terkena dampak dari kebijakan penanggulangan wabah Covid-19, Hengki pun memiliki kekhawatiran serupa.

“Saya membayangkan gimana kalo nanti lockdown benar-benar terjadi disini, saya mau beli makan kemana?” tutupnya.

Tidak hanya oleh Hengki, hal serupa dialami oleh Neng Annisa Monika. Mahasiswa Informatika Rekam Medis angkatan 2020 yang berasal dari Kabupaten Cianjur. Menurut data yang dilansir dari Kompas Regional, Cianjur merupakan daerah zona merah covid-19 wilayah Jawa Barat. Pemerintah Cianjur pun akan memberlakukan Isolasi wilayah, yang dimana adanya pembatasan masuk dari luar Cianjur. Hal ini jadi pertimbangan tersendiri untuk mahasiswa yang akrab dipanggil Monika. Dia menuturkan enggan pulang ke kampung halamannya lantaran tinggal di kost bisa lebih aman dari pada berpergian kemana-mana.

“Pasti ada segi positif dan negatif tentang kebijakan lockdown, aku sih nanggepin positifnya aja”, lengkapnya.

Bukan tidak mau berkumpul bersama keluarga di kampung halaman, Monik memilih tinggal di kostnya karena memperhatikan ketakutan yang akan terjadi bila dia nekat pulang. Dia lebih memilih tinggal agar bisa lebih fokus terhadap tugas-tugas Akademik yang sedang ia kerjakan.

Berbeda hal dengan Hengki dan Monik, Firda memilih untuk pulang ke rumah yang berada di daerah Garut. Firda menuturkan bahwa pulang ke rumah akan lebih aman daripada memilih tinggal di kost. Bukan tidak mengindahkan kebijakan pemerintah, Firda menilai ini sebuah langkah yang harus dia tempuh.

“Karna melihat peningkatan penyebaran virus di perantauan sangan cepat meningkat. Saya khawatir jika di perantauan nanti kenapa-napa dang a ada siapa-siapa”, terangnya kenapa ia memilih untuk pulang ke kampung halamannya di daerah Tarogong Garut.

Firda menambahkan, dia khawatir dengan keluarganya di rumah (Tarogong, Garut-Red) takut terjadi apa-apa. Karena wilayah Garut dikepung oleh daerah zona merah pandemi wabah covid-19. Belum lagi kebijakan pemerintah yang masih simpang siur.

Sementara itu, pihak kampus belum menentukan kebijakan mengenai mahasiswanya yang tertahan karena karantina wilayah. Belum ada perbincangan lanjut tentang isu ini. sementara kampus hanya mengeluarkan kebijakan kuliah daring sewaktu wabah ini menyebar.

“Kampus hanya membuat edaran sistem sementara atas dampak corona yaitu pembelajaran di rumah berbasis daring, kalo sampe ke kebijakan mengenai mahasiswa harus di kosan/mudik belum sampe kesana”, tutur Ai Susi selaku Kabid Kerjasama dan Kemahasiswaan.

Bisa dibayangkan bagaimana peran kampus sangat berpengaruh terhadap kelangsungan mahasiswanya. Siapa yang ingin sakit? Siapa pula yang ingin sengsara? Ini bukan pilihan kita semua.

“Ya kalo bisa kampus sih ngasih keringanan pembayaran, kan kita lagi krisis di tengah pandemi, pengennya kampus agak bersahabat perihal pembayaran. Masa pemerintah aja bisa, kok kampus engga?”, tutup hengki mengakhiri percakapan sambil menyantap makan malam di pelataran kamar kostnya. (AN)**

 

Reporter: Eka Nuraeni, Mustika Rahma

Penulis: Annisa Nasri