Bandung,GS – Pasang surut argumen mahasiswa mengomentari ketetapan baru yang telah disahkan oleh Politeknik Piksi Ganesha Bandung mengenai program Klinik Spesialis Kompetensi (KSK). Program tersebut masih berkaitan dengan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). program KSK ini sendiri akan dimulai pada Maret 2020 mendatang. Namun terhitung hingga hari ini masih banyak mahasiswa memprotes ketetapan kebijakan baru tersebut.

“Sudah jelas di brosur kampus Piksi menjanjikan bebas biaya, akan tetapi buktinya malah banyak pengeluaran yang harus dibayarkan”, ujar salah satu mahasiswa baru angkatan 2019.

 “kami berkuliah disini karna tergiur dengan iklan di brosur Politeknik Piksi Ganesha, mengingat biaya yang harus dibayar cukup tinggi kebanyakan kami dari kalangan menengah kebawah merasa keberatan atas pembayaran tersebut, apalagi untuk kelas karyawan yang membiayai kuliah sendiri”, ujar mahasiswa lainnya.

Kabag Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama pun menuturkan bahwa, program ini bisa bermanfaat untuk pendamping ijazah. Permasalahan biaya pun kampus memberikan keringanan dengan metode cicilan sampai tiga kali angsuran. “Untuk pembayarannya bisa dicicil 3 kali terhitung mulai bulan maret bisa dicicil hingga UAS”, tutur Ai Susi Susanti selaku Kabag Kemahasiswaan dan kerjasama.

Tidak hanya mahasiswa yang merasa dirugikan namun Himpunan Mahasiswa (HIMA) pun seperti dikambing hitamkan, pasalnya tidak sedikit mahasiswa yang menyalahkan HIMA atas uang yang harus dikeluarkan. Dalam aksi ini HIMApun angkat biacara.

“sudah ada di kurikulum, program ini seperti kursus namun wajib. Lembaga searusnya sebagai fasiliitator bukan inspirator, karna untuk menentukan kebijakan harus melalui uji materi” ujar salah satu perwakilan HIMA di Politeknik Piksi Ganesha.

Memang benar adanya tidak sedikit mahasiswa keberatan mengenai biaya program KSK yang harus dibayar meliputi Rp. 500.000 (rumpun Ekonomi&Bisnis), Rp. 600.000 (rumpun IT&Komputer), Rp. 700.000 (rumpun Kesehatan) tanpa merincikan detil dana tersebut.

Sejak keputusan program KSK dikeluarkan beberapa mahasiswa melakukan aksi protes di grup whatsapp BAPS. namun grup tersebut seringkali ditutup karena gelombang aksi protes mahasiswa kian memanas. Akun BAPS tersebut seharusnya tempat untuk mendiskusikan suatu masalah dan melakukan tanya jawab. Namun admin BAPS tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan dan komentar mahasiswa, melainkan memilih untuk membungkam mahasiswa dengan membatasi obrolan sampai terlontar kata kasar hingga ancaman. Hal ini beranggapan agar mahasiswa lainnya tidak terprovokasi tapi malah membuat suasana semakin keruh. (Dila)*

6 thoughts on “Ramainya Program KSK, Gelombang Protes Kian Bergulir”

  1. Thank you Gema Suara for writing and publishing this, to speak up on behalf of most students, everything in every sentences are on point! Thanks so much!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.